Keesokan harinya Aku terbangun dengan perasaan bahagia, kejadian kemarin masih terbayang jelas di mataku. Arman..melihat..padaku.. Hmmh hari ini bagaimana ya?
Aku pergi ke sekolah seperti biasa. Kulirik rumah Arman ketika akan melewatinya. Sebuah senyum tersungging di sudut bibirku. Tiba-tiba gerbang rumah Arman terbuka, dan keluarlah Arman.. Matanya melirik padaku dan dia terdiam beberapa lama. Aku terpaku. Tiba-tiba tersungging senyum kecil dari bibirnya. Lalu dia mulai berjalan mendahuluiku. Armaaaan...benarkah kau tersenyum padaku? Padaku? Masih tak percaya, Aku melihat ke belakang dan ke sekelilingku..tidak ada orang... Tak bisa kusembunyikan senyum di bibirku. Sampai di dalam kelas pun bibirku masih menyunggingkan senyum.
Pelajaran di kelas sangatlah menyenangkan, walaupun pelajarannya fisika. Tetapi gurunya orang yang menyenangkan, yang menerangkan inti atom, atom positif dan atom negatif dengan kami para murid yang memperagakannya. Aku kebagian jadi atom positif hihihi...passs sekali.. I'm in a good mood..
Di waktu istirahat aku pergi ke kantin untuk ngebakso. Kuajak Susi juga untuk kutraktir..I'm in a good mood.. Kami duduk di meja bercorak hati.. Aku tersenyum, kulihat sekelilingku berharap ada Arman. Tak ada. Pesanan bakso kami sudah datang..
"Makasih kang" kataku ke mas bakso.
"Eeh si eneng, sami-sami neng" akangnya senang sekali, mungkin baru kali ini kupanggil kang. Lagi enak enaknya makan bakso, susi menyenggolku.
"Ri!" Kata Susi
"Apa?"
"Kayaknya ada yang merhatiin kamu deh.."
"Oia, dimana?"
"Itu di meja pojok sana." Tambah Susi menunjuk meja yang dimaksud dengan dagunya.
Pelan-pelan kulihat orang yang ditunjuk Susi, itu Arman...tapi Arman adik kelasku yang sedang membersihkan saus dari bajunya.
"Dia?" Tanyaku ke Susi.
"Iya..tadi dia liatin kamu kok.." Kata Susi. Kulihat lagi ke meja Arman, dia tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Kubalas lambaian tangannya.
"Itu anak kelas satu kan?" Kata Susi
"Ya"
"Mungkin dia naksir sama kamu"
"Aah Susi!" Kupukul pelan lengan Susi, dia cekikikan.
"Tapi lucu juga" kata Susi semakin menggodaku, kami cekikikan bersama. Tiba-tiba Susi menyenggol lututku dengan kakinya.
"Apa?" Kataku. Susi melihat ke seseorang yang berdiri di sampingku. Kulihat orang itu, ternyata Arman! Arman senior! Aku sangat terkejut.
"Riri.." Dia memanggil namaku.
"Arman.." Sahutku pelan.
"Lagi ngebakso ya?"
"Iya, ada apa man?"
"Engga, pengen nyapa aja.. Mmmh kamu gada ekskul kan hari ini?" Tanyanya.
"Oh engga.."
"Langsung pulang ya?"
"Iya, langsung pulang.."
"Oke deh kalo gitu, terusin makannya. Sampai nanti ya.." Dia pun berlalu.
Armaaaan..aku...speechless.. Susi melotot padaku.
"Bukannya dia anak pintar dan pendiam itu kan? Arman? Waaaah hebat kamu Ri" Susi memegang pundakku.
"Apa sih si?" Susi ketawa ketiwi.. Aku senyum-senyum aja.
Aku teringat Arman junior yang tadi melambai padaku, kulihat dia sedang menuju mas bakso untuk membayar. Dia merogoh sakunya, dan beberapa uang receh jatuh. Dia mengambilnya dan membayar baksonya. Setelah membayar, dia melihat ke arahku dan tersenyum. Senyumnya tak selebar yang tadi.. Dia melambaikan tangan, lalu berlalu sambil sedikit tersandung kursi di dekatnya. Aku tersenyum aja melihat tingkah lakunya.
Ketika pulang dari sekolah, di depan pagar rumahku...
"Halo ri..."
Arman senior sedang berdiri di dekat pintu pagar rumahku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar